KUPANG, KBC — Pemahaman yang mendalam terhadap isu Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) menjadi hal yang tidak dapat ditawar bagi para insan pers.
Hal ini ditegaskan oleh wartawan senior, Matheos Messakh, dalam kegiatan Diskusi Isu GEDSI dan Perubahan Iklim bersama insan pers yang diselenggarakan oleh Yayasan Ume Daya Nusantara (UDN), Kamis (11/8).
Matheos mengungkapkan bahwa jurnalis pada umumnya adalah seorang generalis yang menguasai berbagai isu secara umum. Namun, ketika berhadapan dengan isu yang lebih spesifik seperti GEDSI, peningkatan kapasitas dan pemahaman mendalam sangat diperlukan. “Khusus tentang GEDSI itu memang tidak semua orang paham. Jurnalis juga harus memperkaya diri dengan pemahaman yang mendalam terhadap isu GEDSI, sehingga dalam penulisannya justru tidak memperlemah kelompok perempuan, anak-anak, dan kelompok lainnya,” ujar Matheos.Ia menambahkan, keterbatasan wawasan wartawan terhadap isu tertentu berisiko menimbulkan misleading atau penyesatan informasi kepada publik, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak.
Sebagai pihak yang menyebarkan informasi ke masyarakat luas, wartawan dinilai wajib memiliki perspektif yang tepat agar berita yang disampaikan tidak salah kaprah.
Selain itu, Matheos mengapresiasi langkah Yayasan Ume Daya Nusantara yang telah memfasilitasi wadah diskusi dan penguatan kapasitas bagi para jurnalis.
Menurutnya, tidak banyak lembaga yang memberikan perhatian khusus untuk memperkaya wawasan insan pers terkait isu-isu inklusif dan perubahan iklim.
Wakil Direktur Yayasan Ume Daya Nusantara Kupang, Simon Sadi Open, menyampaikan bahwa peran media sangat strategis sebagai jembatan informasi antara lembaga organisasi masyarakat sipil (CSO) dan masyarakat luas.
”Kami merasa teman-teman media dan jurnalis-lah yang akan menyambung serta menyampaikan isu yang kami geluti ini ke publik. Kolaborasi ini penting agar pesan dan program kerja kami dapat tersampaikan secara luas,” ujar Simon di sela-sela kegiatan. Dalam pemaparannya, Simon menekankan pentingnya memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan. Menurutnya, kelompok ini menjadi pihak yang paling terdampak ketika terjadi bencana akibat perubahan iklim maupun situasi krisis sosial lainnya. Kelompok rentan yang menjadi fokus perhatian meliputi: Anak-anak, Perempuan, Penyandang disabilitas dan Kelompok minoritas
”Dalam situasi tertentu—baik bencana akibat perubahan iklim maupun tindak kekerasan—mereka adalah kelompok yang paling rentan menjadi korban. Karena itu, porsi pemberitaan dan perlindungan bagi mereka harus terus diperkuat,” jelasnya.
Sinergi antara YUDN dan jurnalis Kupang bukanlah hal baru. Forum kolaborasi ini telah terbentuk sejak tahun 2022, sementara diseminasi isu GEDSI secara intensif telah berjalan sejak 2023. Melalui pertemuan berkala yang dikemas secara santai dan inklusif, YUDN berharap para jurnalis tidak hanya mendapatkan update informasi, tetapi juga wawasan teknis jurnalistik dari para narasumber dan wartawan senior yang dihadirkan.
”Kami sengaja mengajak teman-teman berdiskusi di ruang yang lebih santai dan terbuka. Harapannya, selain mendapat ide liputan baru, ada tambahan pengetahuan yang bisa memperkaya karya jurnalistik teman-teman media,” pungkas Simon.
Editor : Sandro Judany

