KBRN, Kupang: Ketimpangan gender masih menjadi tantangan serius di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang erat kaitannya dengan kuatnya budaya patriarki di masyarakat. Menyadari hal ini, Yayasan Ume Daya Nusantara terus mendorong berbagai upaya untuk menciptakan kesetaraan gender melalui pendidikan, pelibatan perempuan di ruang publik, serta pemahaman yang lebih utuh tentang konsep gender di tingkat akar rumput.
Wakil Direktur Yayasan Ume Daya Nusantara, Simon Sadi Open, menjelaskan bahwa budaya patriarki menjadi hambatan utama dalam mendorong kesetaraan gender di NTT. Ia menekankan pentingnya pendekatan masif dan kolaboratif dari semua elemen masyarakat untuk mengubah pola pikir yang sudah mengakar sejak lama.
“Kalau kita gaungkan atau dengungkan sosialisasi tentang gender bisa saja, tapi ada satu latar belakang budaya patriarki. Jadi kita membutuhkan upaya secara masif dari berbagai pihak, semua unsur masyarakat untuk bisa menggaungkan kesetaraan gender di berbagai lini, terutama kita harus mulai dari tingkat pendidikan dini,” ujar Simon.
Ia meyakini bahwa meskipun budaya sulit diubah dalam waktu singkat, pendidikan yang dimulai sejak dini bisa menjadi kunci perubahan di masa depan. Senada dengan Simon, Frida, perwakilan dari Yayasan Ume Daya Nusantara, mengatakan bahwa pemahaman yang benar tentang gender harus dimiliki oleh baik laki-laki maupun perempuan.
Menurutnya, ketika pemahaman keliru terus dipelihara, justru akan memperparah ketimpangan. “Untuk itu peran laki-laki dan perempuan sangat penting untuk saling mendukung satu sama lain. Peluang dibuka untuk perempuan, dan perempuan memahami bahwa peluang sudah dibuka maka siap untuk dapat mengakses semua kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan perempuan kemudian anak dan lainnya,” ucap Frida.
Yayasan Ume Daya Nusantara juga telah menjalankan program bernama Inklusi, yang fokus pada pelibatan aktif perempuan di ruang publik. Program ini telah membentuk kelompok-kelompok masyarakat di tingkat desa, di mana perempuan didorong untuk menjadi penggerak dan turut mengambil peran dalam pengambilan keputusan.
Yayasan Ume Daya Nusantara berharap upaya ini dapat terus diperkuat dengan dukungan dari pemerintah, DPRD, media, dan seluruh masyarakat. Dengan begitu, kesetaraan gender di NTT bukan hanya menjadi wacana, tapi dapat terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sumber : https://rri.co.id/kupang/daerah/1487594/budaya-patriarki-tantangan-utama-kesetaraan-gender-di-ntt
Admin : Bobby Bryan Anoit

