KBRN, Kupang: Dalam upaya mendorong kesetaraan gender di Nusa Tenggara Timur (NTT), Yayasan Ume Daya Nusantara (UDN) terus menggalakkan Program Inklusi yang secara aktif melibatkan perempuan dalam pengambilan peran di ruang publik. Program ini dilaksanakan di tingkat desa dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat yang menjadikan perempuan sebagai penggerak utama.
Wakil Direktur Yayasan Ume Daya Nusantara, Simon Sadi Open, kepada RRI Kupang, Rabu (30/4/2025) mengatakan bahwa pelibatan perempuan dalam ruang publik merupakan langkah awal untuk memecah dominasi budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat NTT. Menurutnya, kesetaraan gender tidak akan tercapai jika perempuan tidak diberi ruang untuk turut menentukan arah pembangunan, bahkan di lingkup terkecil seperti desa.
“Kami melibatkan perempuan untuk mengambil akses di ruang publik di masyarakat. Itu adalah salah satu langkah untuk mulai memperkenalkan kesetaraan gender itu sendiri, karena kita mendorong advokasi masyarakat untuk mereka mengambil bagian di ruang publik setidaknya di tingkat desa,” kata Simon.
Program Inklusi tidak hanya memberikan ruang bagi perempuan untuk berbicara, tetapi juga mendampingi mereka dalam proses advokasi dan pengembangan kapasitas. Kegiatan ini mencakup pelatihan, diskusi kelompok, hingga pendampingan untuk perempuan dalam mengakses layanan dan hak-haknya di masyarakat. Frida, salah satu pendamping lapangan dari Yayasan Ume Daya Nusantara, menambahkan bahwa keberhasilan program sangat tergantung pada dukungan semua pihak, termasuk laki-laki. Menurutnya, kesetaraan gender hanya bisa tercapai jika baik perempuan maupun laki-laki memahami dan mendukung prinsip keadilan gender.
“Kita melihat bahwa, ternyata, pemahaman soal gender itu sendiri yang harus benar-benar dipahami oleh baik itu laki-laki maupun perempuan. Sehingga ketika sama-sama memahami, ketimpangan-ketimpangan latar belakang budaya, pendidikan dan sebagainya akan perlahan-lahan mulai diperbaiki, sehingga kesetaraan itu bisa terpenuhi,” ujar Frida.
Program Inklusi yang dijalankan di desa ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang mendorong terjadinya perubahan sosial secara perlahan namun nyata. Pihak Yayasan UDN berharap program ini dapat terus diperluas dengan dukungan pemerintah, media, dan masyarakat luas demi terciptanya masyarakat yang setara dan adil.
Editor : Ona Yuliana Ta’ek
